JAKARTA | Kawasan Segitiga Emas Jakarta yang membentang di antara Jalan Jenderal Sudirman, Gatot Subroto, dan HR Rasuna Said, selama puluhan tahun menjadi saksi bisu pertarungan ekonomi para konglomerat kakap di Indonesia. Pada pertengahan dekade 1990-an, kawasan ini berubah menjadi gelanggang tanding bagi tokoh-tokoh besar seperti Prajogo Pangestu, Sudono Salim, hingga Bambang Trihatmodjo dalam upaya menguasai kavling strategis untuk pembangunan gedung pencakar langit.
Demam properti yang terjadi kala itu dipicu oleh lonjakan permintaan ruang perkantoran yang masif. Para pengusaha berlomba-lomba menerapkan sistem build, operate, and transfer (BOT) untuk mengamankan lahan, salah satu contohnya terlihat pada proyek Senturi Plaza di Jalan Gatot Subroto yang berpindah tangan hingga tiga kali sebelum akhirnya dikuasai oleh Grup Lippo. Tidak hanya itu, pada periode tahun 1992, keluarga Salim tercatat mengakuisisi Wisma BCA dan Gedung Mugi untuk memperkuat portofolio properti mereka. Di saat bersamaan, Bambang Trihatmodjo turut masuk ke dalam arena melalui pembelian saham mayoritas di Lokasari Plaza, sementara Ciputra Group gencar melakukan ekspansi di kawasan yang sama.
Ambisi yang jauh lebih masif ditunjukkan oleh Tommy Winata melalui PT Danayasa Artama yang menggagas megaproyek Sudirman Central Business District (SCBD). Proyek tersebut mencakup lahan seluas 45 hektar dengan rencana pembangunan 25 gedung dan nilai investasi fantastis mencapai Rp7,5 triliun. Ambisi serupa juga melanda proyek Kuningan Persada yang digadang-gadang sebagai menara tertinggi di dunia, serta pengembangan superblok oleh SDR Grup dan Bimantara di kawasan Sudirman hingga Karet.
Namun, euforia pembangunan tersebut seketika runtuh saat krisis moneter menghantam Indonesia pada tahun 1998. Krisis ekonomi global ini tidak hanya melumpuhkan daya beli, tetapi juga mengubur banyak proyek ambisius tersebut. Proyek Kuningan Persada senilai 400 juta dolar AS harus mangkrak dan pengelolaannya pun beralih tangan. Kini, setelah tiga dekade berlalu, peta kepemilikan lahan di Segitiga Emas telah berubah drastis dengan hadirnya nama-nama baru seperti keluarga Wijaya melalui Sinar Mas, Century Properties Group yang memegang Pacific Place, serta Martua Sitorus melalui kepemilikan Gama Tower.
Pergantian kepemilikan di pusat bisnis premium ini mencerminkan dinamika hubungan yang cair antara konglomerat dan kekuasaan. Meski krisis ekonomi datang silih berganti dan peta pemain berubah, tanah di Segitiga Emas tetap menjadi komoditas paling bernilai yang terus merangkak naik, menunjukkan bahwa di balik deretan gedung tinggi tersebut, tanah tetaplah menjadi instrumen kekuasaan ekonomi yang tak tergoyahkan. (*)

































