SD Negeri Sepi, Cermin Rusaknya Tata Kelola Pendidikan Sekuler

baraNews

- Redaksi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:09 WIB

5075 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Samsinah, Amd.keb (Muslimah Peduli Umat)

Memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Beberapa SD Negeri hanya menerima sedikit peserta didik bahkan ada yang tidak mendapatkan murid sama sekali.

Fenomena ini tercatat di sejumlah daerah di Indonesia, bahkan di kota-kota yang dikenal sebagai kawasan aglomerasi atau kota besar seperti Semarang dan Bandar Lampung. Salah satunya SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru, SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, hanya menerima tiga siswa baru, SD Negeri Teluk Dalam 10 Banjarmasin hanya memiliki satu murid yang menjadi pendaftar pada SMPB 2026 dan SD Negeri 3 Bukit di Desa Bukit, Bali hanya memperoleh dua siswa yang mengikuti MPLS di awal tahun ajaran baru.

ADVERTISEMENT

```html ```

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peristiwa tersebut menarik respon Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan bahwa Pemerintah telah melakukan pendataan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) terutama terhadap sekolah yang memiliki kurang dari 100 bahkan di bawah 60 siswa. Data tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri dan Kemendikdasmen akan merumuskan kebijakan terhadap sekolah-sekolah dengan jumlah murid yang sangat sedikit. (CNNIndonesia, 15/7/2026)

Di lansir dari Kompas.com (15/7/2026) Menurut peneliti, fenomena yang terjadi di berbagai daerah itu bukan sekedar persoalan persaingan antarsekolah, tetapi juga mencerminkan perubahan struktur demografi, seperti berkurangnya penduduk usia muda yang akibat turunnya pertumbuhan penduduk, generasi menua maupun migrasi penduduk dari desa ke kota.

Selain itu, pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah dengan kurikulum yang berbasis agama yang mengajarkan tentang ibadah, mengaji dan akhlak dikarenakan para orang tua khawatir akan keselamatan anaknya akibat kerusakan pergaulan dan kenakalan remaja yang semakin banyak. Fakta ini menunjukkan bahwa sepinya sekolah negeri tidak semata-mata karena krisis demografi tetapi juga disebabkan oleh hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri.

Pemerintah memberikan solusi dengan regrouping beberapa SDN menjadi satu, namun kebijakan tersebut tidaklah mudah dilaksanakan karena memperpanjang jarak sekolah dan pemerintah harus memastikan anak-anak mendapatkan alternatif transportasi yang aman. (DetikEdu.com, 15 juli 2026)

Perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran semakin kecil. Kegagalan kebijakan ekonomi membuat biaya hidup semakin tinggi dan kesejahteran masyarakat sangat sulit untuk diraih sehingga pasangan muda enggan punya anak.

Maraknya urbanisasi disebabkan oleh kesenjangan pendapatan desa dan kota. Adapun perbedaan antara pendapatan di Desa dan di Kota membuat ketimpangan sosial, kemiskinan, tekanan pada infrastruktur, dan kerusakan lingkungan. Dimana pendapatan di kota jauh lebih tinggi, standar UMR yang tinggi dengan pekerjaan yang berkelas, sedangkan di desa pendapatan masyarakat jauh lebih rendah dengan pekerjaan sehari-hari pada umumnya berkebun, bertani atau nelayan.

Selain itu, sikap orangtua lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekular liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal sering terjadi di kalangan anak sekolah. Contohnya, seperti tawuran, geng motor, pembullyan bahkan pergaulan bebas.

Perubahan kurikulum berulang kali terbukti tak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal. Banyak yang kita lihat bahwa seringnya ganti kurikulum juga tidak dapat mengatasi persoalan rusaknya karakter generasi. Pendidikan lebih banyak berorientasi pada aspek akademik, sementara pembentukan kepribadian dan akhlak belum menjadi fondasi utama.

Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Sebagaimana yang dulu telah dicontohkan pada masa kejayaan Islam. Pada zaman itu masjid yang dilengkapi madrasah, dengan berbagai fasilitas pendidikan lainnya.

Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian islam dan mahir dalam iptek. Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas.

Kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistematik akibat penerapan sistem sekuler liberal. Maka dari itu yang harus diperbaiki adalah sistem sekuler liberal menjadi sistem islam terlebih dahulu untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Oleh karena itu perlu adanya dakwah politik untuk membangun kesadaran politik masyarakat sangat penting, seperti amar ma’ruf nahi munkar yang telah Allah jelaskan didalam Al Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Hal ini akan menggerakkan kesadaran masyarakat untuk mengubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam dan hanya melalui institusi negara Khilafah Islamiyah maka semua itu akan terwujud. Islam hadir memberikan solusi atas berbagai problematika kehidupan dan menjadi rahmat bagi segenap alam.

Berita Terkait

Merangkai Jejak Perjuangan Menjadi Kisah yang Tak Lekang oleh Waktu
Efisiensi Anggaran vs Maraton Seremonial: Media Kecil Bandung Dorong Transparansi & Kemitraan Sehat
Islam Kaffah Menjamin Gizi Muslimah Terwujud

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 16:25 WIB

Dukung Pendidikan Perbatasan, Pos Perumbang Satgas Yonarmed 13/Nanggala Berikan Pelatihan Olahraga bagi Siswa SDN 04 Kekurak

Jumat, 18 September 2026 - 16:20 WIB

Perkuat Sinergi dan Kolaborasi, Kapolres Toraja Utara Terima Kunjungan Silaturahmi Kepala BNNK Tana Toraja

Jumat, 18 September 2026 - 16:17 WIB

Pengendali Dana Rp16,5 Miliar Harus Diungkap, Kasus Bank Jateng Blora

Jumat, 18 September 2026 - 16:17 WIB

Enam Pilar Perusahaan Pers Perlu Diperkuat, Agus Kliwir : Bukan Sekadar Punya Website

Kamis, 17 September 2026 - 18:13 WIB

Danrem 143/HO Dampingi Pangdam XIV/Hasanuddin pada Kunjungan Kerja di Sultra

Kamis, 17 September 2026 - 18:12 WIB

Danrem 143/HO Dampingi Pangdam XIV/Hasanuddin Tinjau Koperasi Desa Merah Putih Punggaloba

Kamis, 17 September 2026 - 18:11 WIB

Sat Reskrim Polres Toraja Utara Lakukan Pemeriksaan dan Pemantauan Berkala SPBU Antisipasi Penyalahgunaan BBM Bersubsidi

Kamis, 17 September 2026 - 18:10 WIB

Gelar Pembinaan Rohani di Ruang Tahanan, Kapolres Toraja Utara Harap Para Tahanan Jauh Lebih Baik

Berita Terbaru

NASIONAL

Ambisi Konglomerat di Balik Gemerlap Segitiga Emas Jakarta

Sabtu, 19 Sep 2026 - 23:36 WIB